Penulis: Shafira Alya Salsabilla
Di era modern seperti sekarang, kita akan jarang menemukan seseorang yang rela menulis surat untuk mengirim pesan pada orang lain. Hal tersebut didukung pula dengan adanya telepon genggam yang dapat mengirimkan pesan dengan waktu kurang dari sepuluh detik. Namun jika kita menoleh ke belakang, sekitar tahun 1999-awal 2000an, surat adalah alat komunikasi paling masif pada masa itu. Pada kisaran tahun tersebut, sebenarnya sudah terdapat ponsel dan telepon rumah, namun tetap tak dapat menggeser popularitas surat.
Seseorang menulis surat biasanya untuk menyampaikan pesan dan berharap segera dibalas oleh orang yang dikirimi surat. Namun tidak untuk Kugy, Kugy menulis surat semata didorong oleh kesenangan pribadi, di mana kertas suratnya kemudian dilipat menjadi sebuah perahu kertas. Perahu-perahu kertas itu akan dihanyutkan Kugy ke sungai, dengan harapan akan ditemukan oleh Neptunus. Kugy memiliki keyakinan bahwa karena sungai pada akhirnya bermuara ke laut, dan dalam mitologi Yunani Neptunus merupakan dewa laut, maka surat-surat yang diluncurkannya melalui sungai akan sampai dan dibaca oleh Neptunus.

Judul Buku: Perahu Kertas
Pengarang: Dewi “Dee” Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: Agustus 2009
Tebal Halaman: 444 hal; 20 cm
ISBN : 978-979-1227-78-0
Kugy adalah tokoh utama yang berkarakter unik dalam novel Perahu Kertas karya Dee Lestari. Keunikannya tidak hanya tercermin dari kebiasaannya mengirim surat kepada Neptunus, tetapi juga dari selera musiknya yang menyukai lagu-lagu era 80-an, padahal latar waktu novel Perahu Kertas berada pada periode tahun 1999 hingga awal 2000-an. Selain itu, gaya berpakaiannya yang cenderung boyish merepresentasikan jiwa bebasnya serta sikapnya yang tidak terikat pada stereotip yang berlaku di masyarakat.
Dee Lestari adalah seorang penulis dengan karya-karya yang dikenal unik. Novel ini berhasil menarik perhatian luas pembaca dan diadaptasi menjadi film yang terbagi dalam dua bagian, yaitu Perahu Kertas 1 dan Perahu Kertas 2, yang dirilis pada tahun 2009. Film ini disutradarai oleh sutradara ternama yaitu Hanung Bramantyo yang diperankan oleh Maudy Ayunda dan Adipati Dolken.
Dee Lestari membangun karakter Kugy sebagai perempuan berjiwa bebas dan konsistensi terhadap karakter ini tercermin dari pemilihan jurusan kuliah tokoh tersebut. Jurusan kuliah Kugy juga dibuat ‘melenceng’ dari jurusan kuliah untuk memenuhi kriteria konvensional ‘menantu idaman’ yang diharapkan para calon ibu mertua zaman sekarang. Kugy anak Jakarta yang pindah ke Bandung untuk berkuliah di Fakultas Sastra. Ia tinggal satu rumah kos dengan Noni yang merupakan sahabatnya. Mereka menempuh perjalanan Jakarta-Bandung dengan menggunakan mobil yang dinamai Fuad dan dikemudikan oleh Eko, pacar Noni.
Ketika di Bandung, Kugy berkenalan dengan Keenan, yang merupakan sepupu Eko. Keenan merupakan mahasiswa jurusan Manajemen di universitas yang sama dengan Kugy. Walau Keenan berkuliah di jurusan Manajemen karena tuntutan ayahnya, namun siapa sangka jika Keenan jenius dalam melukis. Alur cerita novel ini berpusat pada kedua tokoh tersebut yang memiliki karakteristik unik dan sama-sama bertekad kuat untuk meraih cita-cita. Meskipun pada akhirnya mereka mengembangkan perasaan satu sama lain, narasi novel tidak hanya terfokus pada aspek percintaan, tetapi juga mengeksplorasi proses pendewasaan diri serta perjuangan kedua tokoh dalam mewujudkan impian mereka.
Dari segi kelebihan, tema yang diangkat dalam Perahu Kertas dinilai dekat dengan realita kehidupan sehari-hari, termasuk penggambaran dinamika hubungan yang sering disebut sebagai “friendzone”, yang berhasil membangkitkan empati pembaca. Karakter-karakter dalam novel juga disajikan dengan menarik dan memicu rasa penasaran. Selain itu, penggunaan bahasa yang sederhana namun indah, serta alur cerita dan perkembangan karakter yang memikat, membuat pembaca tetap terlibat tanpa merasa jenuh.
Di sisi lain, novel ini memiliki beberapa kekurangan, antara lain ketebalan buku dan penggunaan banyak latar yang dapat menimbulkan kebingungan saat membaca. Oleh karena itu, pembaca perlu menjaga fokus agar dapat mengikuti alur cerita dengan baik. Meskipun demikian, jika dibaca hingga akhir, kisah dalam Perahu Kertas memberikan pesan yang inspiratif. Novel ini mengajarkan nilai-nilai kehidupan, seperti pentingnya kerelaan hati dalam menerima kenyataan ketika cinta tidak tersampaikan, serta tekad untuk memperjuangkan dan meraih mimpi.
Cahyaloka Membangun Generasi Beradab



